Sejarah Desa Manyarsidorukun
Dari segi budaya, Desa Manyar Sidorukun tidak lepas dari sejarah masa lalu desa, baik itu berkaitan dengan asal-usul luasan desa, nama desa, hingga tokoh-tokoh yang berperan dan dianggap keramat oleh warga desa hingga kini. Sejarah Desa Manyarsidorukun tidak terlepas dari sejarah Manyar itu sendiri. Dahulu kala daerah Manyar adalah merupakan pesisir pantai yang merupakan tempat bersandarnya saudagar-saudagar Arab, India maupun Cina serta saudagar-saudagar dari Eropa, terbukti dengan adanya makam Nyai Siti Fatimah binti Maimun kemudian karena pengikisan air laut maka terbentuklah dataran tanpa pengguni yang sekarang disebut Manyar dari asal kata Lemah Anyar. Pada saat itu ada saudagar dari Arab yang bernama: Syech Jafar Shidiq yang merupakan paman dari Nyai Siti Fatimah binti Maimun, bersama dengan teman-temannya, mereka berlabu di pesisir Manyar yang sekarang menjadi tempat (makam islam Manyar). Dahulu dimakam Manyar ada pohon asam yang bernama SIKETAN (untuk mengikat perahu-perahu Syech Ja’far Shidiq bersama pengikutnya) dan juga ada pohon asam yang bernama SIWELA (untuk menaruh wela perahu-perahu Syech Ja’far Shidiq bersama pengikutnya).
Setelah lama kemudian datanglah Sunan Giri/ Raden Paku yang tinggal di Giri kedaton. Dia mengutus muridnya untuk menyebarkan syariat islam diwilayah pesisir Gresik. Beliau adalah Mbah Buyut Sindujoyo atau Buyut Kroman dari asal kata karomah. Mbah Buyut Sindujoyo pernah adu kedikjayaan dengan Kidang Paleh (mbah buyut Gemeno) dan dimenangkan oleh Mbah Buyut Sindujoyo. Mbah Sindujoyo pernah berwasiat kepada anak turunnya “ anak turunku kelak jangan sampai menikah dengan anak keturunan Kidang Paleh) Sampai ada sebuah unen-unen orang asli Manyar tidak boleh menikah dengan orang asli Gumeno. Kalau dilanggar maka akan terjadi hal-hal tidak diinginkan, misal anaknya menjadi idiot, sakit-sakitan dll. Kemudian ulama yang lain yang datang ke wilayah Manyar, yang bernama “MBAH BUYUT MANYAR” yang asal namanya “ONGGO JOYO” yang merupakan keturunan dari Mbah Sindujoyo. Mbah Sindujoyo adalah seorang yang alim dan sakti mandraguna. Dia pernah mengadu kesaktian dengan sebelas pengembara yang sekarang makamnya ada di druyung (pertigaan tol Manyar). Ketika kesebelas pengembara itu beristirahat, mbah Onggo Joyo menyuruh abdi dalemnya untuk memberikan makanan serebeh kepada kesebelas orang tersebut, tetapi karena kuasa Alloh SWT, serebeh tidak dapat dimakan karena keras laksana besi, dari situ kesebelas pengembara tersebut mengakui kehebatan dari Mbah Onggo Joyo (Mbah Buyut Manyar).
Wilayah Manyar yang dulunya hanya berupa tanah yang tak berpenghuni mulai dihuni oleh anak turun dari Mbah onggo Joyo (mbah buyut Manyar) dia juga merupakan keturunan dari Mbah Sindujoyo kroman yang merupakan masyarakat asli Manyar, Desa yang semakin hari semakin ramai sehingga menarik penduduk dari tempat lain untuk datang kedesa Manyar dan menikah dengan penduduk setempat sehingga terjadi percampuran darah.
Masyarakat manyar yang merupakan keturunan asli Manyar, biasanya sebelum menikah mereka harus nyekar ke mbah Sindujoyo jika tidak pasti ada hal-hal yang ada diluar nalar, misal ketika masak hidangan tidak bisa matang. Desa Manyar dibagi menjadi tiga desa, yang berada disebelah selatan adalah desa Manyarejo yang artinya: rejo. ManyarSidomukti yang artinya: orang yang berbakti kepada pimpinan dan desa Manyarsidorukun yang artinya : orang-orangnya rukun-rukun dan suka bergotong royong.
Adapun cerita singkat dari Desa Manyarsidorukun. Menurut sesepuh-sesepuh Manyar. Karena pada saat itu ada sebuah mayat prempuan yang mengambang dikali sebelah timur balai desa Manyarsidorukun kemudian masyarakat berinisiatif untuk membawa kesungai untuk dikaramkan,tetapi hal yang mengejutkan setiap kali dikaramkan pasti kembali ke kampung sarkali, sehingga masyarakat bersepakat untuk bergotong royong untuk memakamkan mayat tersebut. Mayat tersebut adalah Mbok Ayu (yang nama asalnya Hj. Yaroh merupakan keturunan dari Sunan Kramat Mengareh). Karena kerukunannya maka Desa Manyarsidorukun dinamakan Manyarsidorukun. Karena itu setiap menjelang bulan Romadhon, Masyarakat Manyar mengadakan Barian/ Khaul Desa Mbah buyut Sarkeli/Mbok Ayu/ Nyai Hj. Saroh.